Sedih
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada diri mereka dan tidak pula mereka bersedih hati," (Terjemah Q.S. Yunus: 62)
Dahsyat golongan yang satu ini. Hidup mereka bebas dari kekhawatiran dan kesedihan. Mereka tidak khawatir tentang masa depan dan tidak sedih dengan masa lalu.
Jika kekhawatiran dan kesedihan tidak ada, maka ketenangan senantiasa menyelimuti. Hidup berjalan dengan sangat nyaman. Potensi kebaikan semakin besar.
Apa yang dibutuhkan untuk menggapai hidup bebas khawatir dan sedih seperti ini? Salah satunya makrifat, mengenal. Dalam hal ini mengenal Allah ta'ala, manusia, dan alam semesta.
Pengenalannya tentu tidak serta, juga tidak selalu lewat jalur formal. Bahkan pentahapan dan bebagai jalur perlu dilalui. Yang penting hal-hal mendasar dikenali.
Ini terlihat pada Al-Qur'an surat Al-'Alaq ayat 1-5. Wahyu pertama ini mengenalkan Allah ta'ala sebagai khaliq (pencipta), karim (pemurah, pemberi), dan mu'allim (pengajar, pemberi ilmu). Sementara manusia, sebaliknya, merupakan makhluk. Ia diberi dan diajari. Ia mendapatkan akal, naluri, juga nurani. Selain itu ada karunia berupa ruang hidup, diawali dari rahim berlanjut di atas bumi.
Dengan pengenalan awal ini semoga manusia menyadari situasinya. Bahwa sesungguhnya ia lemah, selalu butuh bantuan Allah ta'ala. Tak boleh sedetikpun ia melupakan-Nya. Tak boleh sedetikpun merasa bisa segalanya. Apalagi saat jiwa penuh guncangan, sangat penting untuk dirinya kembali serta mengadu kepada-Nya.
Di sisi lain manusia perlu senantiasa bersyukur kepada-Nya. Berbagai kebaikan jika dihitung pasti tidak akan terhingga. Apalagi kebaikan yang datang sesuai dengan harapannya. Rasa syukur harusnya lebih kuat.
Sisi lainnya manusia perlu memiliki sabar. Berbagai hal yang tidak disukai semoga bisa disikapi dengan lapang dada. Bukan berarti hak adami tidak boleh dituntut, jika memang ada masalah di situ. Akan tetapi proses penyelesaiannya dijalani dengan pemikiran yang jernih.
Sebagai penguat untuk ketiga perihal tersebut, kiranya ibadah dijaga. Lebih baik jika ibadah meningkat seiring usia. Agar masalah yang semakin kompleks terus dapat diurai. Hidup senantiasa ringan. Bahagia sudah dirasakan di dunia, berlanjut di akhirat insya Allah.
Wallahu a'lam.
#MenghidupkanSW
Post a Comment