Header Ads

Mitigasi Ideologis Sekolah Islam

“Anda tidak bisa ‘meng-instal’ nilai-nilai dasar atau tujuan baru organisasi Anda kepada orang-orang yang ada di organisasi Anda. Keduanya bukan sesuatu yang mudah didapatkan semudah membeli di toko. Orang-orang di organisasi Anda, atau yang akan bergabung, seharusnya sudah memiliki kesiapan untuk menerima keduanya,” demikian dinyatakan Collins dan Porras dalam Built to Last.


Sebelumnya, masih di buku yang sama, Collins dan Porras menyampaikan bahwa nilai-nilai dasar atau tujuan baru organisasi didasarkan pada ideologi organisasi. Sementara itu ideologi organisasi bersifat khas, tidak terpengaruh penilaian pihak luar. Organisasi memiliki otonomi yang sangat luas terkait hal ini.

Pernyataan Collins dan Porras menarik. Pertama, keduanya menempatkan penanaman nilai organisasi sebagai sesuatu yang berat. Banyak pihak mengiyakan pendapat ini. Berbagai aktivitas penanaman nilai organisasi merupakan bukti betapa penanaman nilai organisasi bersifat kompleks.

Kedua, keduanya mensyaratkan kesiapan orang-orang dalam organisasi sebelum nilai dan tujuan baru disosialisasikan bahkan diimplementasikan. Salah satu kesiapan yang bersifat mendasar adalah penerimaan dalam diri mereka. Tanpa penerimaan diri, nilai-nilai tersebut mungkin segera menguap. Maka salah satu tugas terpenting organisasi dalam hal ini adalah memastikan bahwa orang-orang di organisasi telah menerima nilai dan tujuan baru. Mungkin tidak semua, tapi sebagian besar orang menerima.

Ketiga, dalam rekruitmen anggota baru, sangat penting bagi organisasi (perusahaan/lembaga) untuk mencari anggota dengan nilai dasar yang sama. Tanpa itu, organisasi akan mengalami masa berat dalam pembinaan. Bahkan menurut Collins dan Porras, lebih baik berpisah di awal ketimbang anggota dipaksakan masuk dalam organisasi.

Pandangan keduanya mungkin kontroversial. Akan tetapi ada penguat. Mondy dalam Human Resource Management mengungkapkan, organisasi perlu mendefinisikan siapa yang disasar untuk menjadi anggotanya.

Pandangan Collins dan Porras menemukan momentumnya pada kasus Novi Citra Indriyati (NCI). Sebagaimana diberitakan, NCI seorang mantan guru di salah satu SDIT di kabupaten Purbalingga. NCI mengalami pemecatan setelah diketahui identitasnya sebagai vokalis grup band punk Sukatani.

Dalam sebuah penelusuran, diketahui bahwa skripsi NCI memuat kata-kata WIji Tukul yang berbunyi, “Keberanian butuh dilatih, bukan datang secara tiba-tiba seperti wahyu Tuhan.”

Kenyataan ini menunjukkan bahwa NCI cenderung kepada ideologi anti penindasan atau lebih dikenal ideologi kiri.  Sementara itu SDIT yang dimasuki NCI lebih cenderung kepada Islam puritan. Sekian lama dibina di SDIT ini, NCI masih menggenggam kuat ideologi kirinya. Bahkan bisa dikatakan ideologi dalam dirinya semakin kuat, diindikasikan dengan lagu-lagu dan jenis musik yang dibawakannya.  

Sebenarnya NCI sadar ada perbedaan ideologi dalam dirinya dengan ideologi SDIT-nya. Oleh karena itu dalam setiap publikasi dan pertunjukannya, NCI selalu menggunakan penutup wajah. NCI ingin kehidupan di dua dunia ideologis berjalan lancar. Apalagi sebagaimana dinyatakan kepala sekolah, NCI bersikap baik selama menjadi guru. Apa daya topeng Novi dilucuti dalam video permintaan maafnya.

Highlight kasus NCI pada tulisan ini berkisar tentang kesiapan sekolah Islam dalam penanaman nilai ideologis kepada guru dan karyawannya. Sebagaimana dinyatakan oleh Collins dan Porras, nilai ideologis yang dimiliki calon karyawan harus dipertimbangkan dalam rekruitmen. Tidak bisa sekolah Islam menganggap enteng. Pembinaan seperti apapun mungkin akan melahirkan kompromi dalam diri guru dan karyawan, namun sulit untuk terjadi integrasi jika nilai ideologis yang digenggam sebelumnya bukanlah nilai-nilai yang sama dengan sekolah Islam.

Akan lebih parah manakala sekolah Islam belum berhasil mendefinisikan nilai-nilai dasar dan tujuannya. Sangat dimungkinkan terjadi tarik ulur pemikiran antara sekolah dengan guru dan karyawan. Politik di tempat kerja sulit dihindarkan pada akhirnya.

Selanjutnya sekolah Islam perlu memiliki mitigasi ideologis. Apa yang akan dilakukan sekolah Islam jika guru memiliki nilai ideologis yang berbeda dengan sekolah, bahkan berseberangan, padahal sudah bertahun-tahun? Apa pula yang akan dilakukan sekolah Islam jika guru lama yang tadinya bagus secara ideologis berubah menjadi buruk?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab, lalu disusun secara dalam seperangkat kesepakatan sebagai mitigasi ideologis. Sehingga sekolah Islam memiliki landasan institusional. Setiap pihak bisa memahami dan melaksanakannya saat dibutuhkan.

Ada beberapa jawaban yang menjadi alternatif penyelesaian. Salah satunya variasi pembinaan. Tidak sekedar klasikal, tapi juga pembinaan individual. Tidak monoton satu arah, tapi dua arah.

Di sisi lain apresiasi kepada guru dan karyawan dikuatkan. Tidak perlu menunggu periode tahunan untuk sekolah Islam memberikan apresiasi. Asal ada kebaikan yang dilakukan guru dan karyawan, apresiasi langsung diberikan. Bentuk sederhananya apresiasi verbal. Atas kebaikan yang lebih tinggi, bentuk apresiasinya bisa lebih diwujudkan dalam bentuk materil. Semoga suasana apresiatif dan suportif melingkupi sekolah Islam. Nuansa Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin begitu dirasakan.

Kebaikan yang dimaksud mencakup terlaksananya tugas-tugas standar guru dan karyawan. Karena melaksanakan tugas-tugas standar, seorang guru dan karyawan memerlukan motivasi. Semoga dengan apresiasi, motivasi guru dan karyawan meningkat.

Dalam hal penilaian guru dan karyawan, objektivitas diperlukan. Like and dislike dijauhkan. Semoga keadilan dirasakan, menambah atmosfer kebaikan.  

Seluruh ikhtiar ini dilandasi proaktivitas. Para pemimpin sekolah Islam tidak menunggu ada kasus atau masalah. Sesedikit apapun masalahnya, tindakan sudah dilakukan.

Sebagai penutup, batasan dunia hampir memudar. Secara fisik ataupun ideologis, hampir tidak ada sekat. Oleh karena itu, para pemimpin sekolah Islam perlu bersiap bahwa guru-guru bisa memiliki beragam ideologi. Mitigasi ideologis berorientasi win-win solutions kiranya bisa dirumuskan dengan baik. Sehingga pihak sekolah dan guru bisa terus berkembang. Jika memang perpisahan menjadi solusi akhir, semoga kedua pihak tetap saling dukung, minimal tidak saling menjatuhkan, sebagaimana pesan Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 237.

Wallahu a'lam. 


Fu'ad Fahrudin

Alumni Hidayatullah Institute Batch 10


Diberdayakan oleh Blogger.